Guru
adalah seseorang yang sangat dekat dengan siswa. Keberadaannya dalam keseharian
siswa lebih mendalam dengan ajaran-ajaran ilmu yang diberikannya di saat jam
sekolah. Disinilah peran guru sangat penting dalam membentuk akhlak dan
karakter siswa untuk menjadikan kepribadian siswa lebih baik dan lebih baik
lagi.
Tapi bagaimana dengan guru yang
cemen??? Cemen disini bukan nama seseorang ataupun nama dari
benda melaikan suatu sifat atau sikap guru. “ Guru Cemen” disini berarti penakut, kurang punya nyali untuk
menghadapi siswa, menghadapi berbagai macam karakter siswa. Mereka sangat
terbebani atas semua tindakan siswa yang menurutnya sangat mengganggu proses
pembelajaran berlangsung. Seperti kenakalan siswa, kejahilan siswa, suka
berkelahi dengan teman dan lain sebagainya. Guru-guru yang cemen apabila
melihat tindakan siswa yang seperti itu pasti akan diam dan membiarkannya.
Tidak menegur dan memberi penjelasan mengenai tindakan yang kurang baik tersebut.
Adapun teguran, pasti cuma ada kata “jangan
anak-anak!!!” begitu saja. Dalam hal ini guru terlihat lemah guru seperti
tidak memiliki keberanian untuk menegur secara tegas apa yang telah dilakukan
oleh siswa, agar siswa kapok dan tidak mengulangi perbuatannya yang kurang baik
itu.
Lalu
bagaimana nanti kepribadian siswa yang akan terbentuk, jika gurunya saja
seperti itu. Bisa saja dengan sifat guru yang cemen ini siswa merasa lebih
bebas, lebih hebat, lebih bersifat berkuasa seolah-seolah semua yang dilakukan
sudah dirasa benar. Ini yang memprihatinkan saudara-saudara, siswa sudah merasa
tidak ada lagi yang membatasi mereka dalam bertingkah dan bertindak. Memang
benar siswa sekarang dituntut dalam kebebasan, tetapi kebebasan disini bukan
kebebasan dalam hal yang negatif tetapi dalam hal yang positif seperti
kebebasan berpendapat, kebebasan berkreasi dan lain sebagainya. Jika dalam hal
ini boleh guru membiarkan siswa bebas dalam hal yang positif. Tetapi lebih baik
seorang guru tetap memberikan motivasi dan memberikan penguatan bukan hanya
diam saja. Kalau hanya diam dan tidak mau mengerti siswa berarti guru itu
pantas dijuluki sebagai “ Guru Cemen “.
Akhirnya,
apa akibatnya jika sudah begini?
ya..Alhasil siswa menjadi melonjak, dia menjadi pemberani dalam hal negatif,
tidak memiliki unggah ungguh lagi kepada gurunya. Dia merasa dirinya benar
karena selama perbuatan dan tindakan yang dia lakukan, gurunya tidak pernah mau
tau, tidak pernah mau menegur, tidak pernah mau ikut campur. Sehingga akhirnya
siswa bisa bersikap menindas guru-guru yang cemen itu. Menindas yang dimaksud
adalah siswa sudah berani dengan guru, apapun yang dikatakan oleh guru sudah
tidak akan berarti apa-apa oleh siswa. Ilmu yang disampaikan kepada siswa, akan
berujung sia-sia. Yang lebih parah adalah pelajaran akhlak dan
karakter/kepribadian yang ingin dibentuk pada diri siswa pasti gagal dan tidak
ada hasilnya sedikit pun.
Maka
dari itu, kita sebagai pendidik khususnya saya sendiri sebagai calon pendidik
haruslah sadar dengan kewajiban kita sebagai guru. Sebenarnya apa tugas utama kita sebagai seorang pendidik yang baik??
Yaitu menuntun siswa agar memiliki akhlak yang mulia dan berkepribadian yang
baik serta memiliki ilmu-ilmu yang bermanfaat. Dengan cara apa?? Kita sebagai
pendidik haruslah memiliki keberanian untuk menuntun siswa kita ke arah yang
lebih baik, lebih baik menegur dan mengarahkan siswa daripada kita diam dan
membiarkannya. Siswa butuh sosok guru yang “Perhatian
dan Pemberani” bukan “Guru Cemen”
yang mereka perlukan untuk mencapai cita-cita mereka di masa depan.
Nama : Roro Putri
Megawati
NPM : 13 141 031
Kelas :
5A
Prodi : PGSD